Serobot Tanah Orang, Bos Toko Sinar Harapan di Halut Dipolisikan

Serobot tanah orang, bos Toko Sinar Harapan di Halut dipolisikan. (Foto: Ist)
Serobot tanah orang, bos Toko Sinar Harapan di Halut dipolisikan. (Foto: Ist)

MALUKU UTARA, MATAHARIPOS.COM- Pemilik Toko Sinar Harapan di Tobelo, Halmahera Utara (Halut), Maluku Utara, Henny Syiariel dan Henry Limy dilaporkan ke  polres setempat.

Suami dan istri itu terpaksa harus berurusan dengan hukum karena dugaan menyerobot tanah milik Robby Weeflaar dan Wilda Weeflaar di Desa  WKO, Kecamatan Tobelo Tengah.

Awalnya, Robby Weeflaar sampai membuat laporan karena Henny Syiariel dan Henry Limy tiba-tiba membuang material bangunan di atas tanahnya dengan maksud mau membangun.

Bahkan, Henny Syiariel dan Henry Limy juga membuat patok ukuran tanah baru tanpa sepengetahuan.

“Saya kaget tiba-tiba sudah ada material bangunan dan patok baru, padahal jelas-jelas itu di atas tanah kami,” ucap Robby Weeflaar, Minggu (10/11/2023).

Robby menjelaskan, tanah itu merupakan warisan dari  Almarhum bapaknya Donny Weeflaar yang dibeli dari  tanah milik Gereja Masehi Injili Halmahera (GMIH) pada 3 Desember 1997.

“Buktinya  ada semua. Mulai dari surat  jual beli hingga sertifikat.  Jadi saya bingung  kalau terlapor  mengklaim itu tanahnya,”kesal Robby.

Sementara, sore kemarin, polisi juga turun ke lokasi memastikan patok tanah yang dipermasalahkan ini.

Mantan Kepala Perkebunan GMIH,  Absalon Jojano kepada polisi mengaku, setelah Donny Weeflaar membeli tanah dari GMIH, ia memang yang turun langsung melakukan pengukuran tanah itu.

Sehingga sepengetahuan ia, ukuran tanah milik Donny Weeflaar atau dari pelapor itu lebarnya 38 meter.

“Dulu di lokasi ini masih hutan waktu Pak Donny beli. Saya yang turun ukur. Gambarnya juga ada saya buat,” ungkap Absalon.

Nah, sisa tanah dekat kali  itu lanjut dia, dibeli Hary Siahu.Tak berselang lama, lalu dijual ke Henny Syiariel dan Henry Limy.

Padahal, ia telah sarankan, bahwa tanah itu selain ukurannya kecil juga tak layak .

Karena dekat sekali dengan kali (Sungai). Tetapi, Hary Siahu memaksa untuk membelinya.

“Jadi, intinya yang saya tahu tanah Pak Hary Siahu yang dibeli waktu itu dekat kali,” katanya.

Saksi lain, Hary Siahu mengatakan, sebagai pemilik tanah yang dijual ke terlapor (Henny) tak tahu persis patok batas yang saat ini diklaim terlapor sebagai hak miliknya.

“Saya sendiri tak mengetahui titik kordinat luas lahan yang sebenarnya, karna waktu itu saya sendiri tidak turun langsung ke lokasi untuk menunjukan patok  tanah yang saya jual ke ibu Henny,” kata Hary saat ditanyai polisi soal penyerahan tanah dari GMIH kepadanya waktu itu.

“Yang tahu semua tanah ini, itu dari pihak GMIH. Termasuk Pak Absalon Jojano sebagai penanggungjawab,”ujar dia.

Mantan Kades Wosia (sekarang WKO) Jordan Bie,  bahwa ia memang ikut sebagai saksi saat penyerahan tanah dari GMIH ke Hary Siahu. Tetapi tak ikut saat pengukuran tanah.

“Saya tandatangan sebagai saksi. Cuman turun ukur saya tak ikut,” pintanya.

Adapun, setelah sejumlah saksi dimintai keterangan di lokasi, mereka juga langsung diarahkan ke Polres Halut. (*)