Soal Pembalakan Liar, Suasana Register 38 Kian Memanas 

Lokasi penebangan kayu di Kawasan Hutan Lindung Register 38 tepatnya di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur. (Foto: Dok. Matahari Pos)
Lokasi penebangan kayu di Kawasan Hutan Lindung Register 38 tepatnya di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur. (Foto: Dok. Matahari Pos)

LAMPUNG TIMUR, MATAHATIPOS.COM- Suasana di lokasi penebangan liar kian memanas. Terdengar kabar, bahwa massa akan beritindak jika wartawan sampai masuk ke lokasi penebangan kayu di Kawasan Hutan Lindung Register 38 tepatnya di Desa Bandar Agung, Kecamatan Bandar Sribawono, Kabupaten Lampung Timur.

Setelah sebelumnya viral dalam pemberitaan, bahwa oknum kepala desa (kades) berstatus cuti berinisial KMD diduga terlibat mem-backup dan melindungi pembalakan liar (illegal logging). Ternyata, kini ia terindikasi kian gencar mempelopori warga bertindak nekad jika jurnalis sampai meliput penebangan liar di Kawasan Hutan Lindung Register 38 di Desa Bandar agung.

Informasi diterima dari sumber terpercaya, bahwa sekarang penebangan liar di Register 38 semakin marak.

“Penebangan ditempat kemarin masih lanjut. Di Simpang 55 ada juga penebangan kebun karet 2 hektare,” ungkap sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Sumber menyarankan agar wartawan jangan masuk ke lokasi penebangan karena karena sangat berpotensi bahaya. Jika wartawan masuk, warga atau massa akan bertindak.

“Jangan ke sana mas, bahaya karena massa akan bertindak,” kata ia, Senin (9/10/23).

Dirinya mendapat kabar, jika ada yang usil soal penebangan itu, warga atau penebang kayu harus segera lapor ke kades KMD. Infonya, warga dan pemuda juga sudah kompak karena ada yang mempeloporinya.

“Mereka sudah kompak mas, katanya kalau ada apa-apa segera lapor ke Pak KMD. Ya, mungkin dia itu yang jadi pelopornya,” katanya.

Sebelumnya, Rabu 27 September 2023 lalu, saat media ini menelusuri dugaan kasus illegal logging di area Gunung Wetan Telaga, Dusun 13 Desa Bandar Agung, oknum Kades berstatus cuti berinisial KMD tiba-tiba datang ke lokasi bersama Babinsa dan puluhan warga. KMD sempat marah. Ia mengatakan, apa salahnya warga menebang kayu yang mereka tanam sendiri.

“Apa salah warga menebang kayu yang mereka tanam sendiri,” ujarnya.

Menurut KMD, mereka sudah bayar pajak, dan pemerintah tak pernah sosialisasi kepada masyarakat soal  yang boleh kayu ditebang dan yang tidak.

“Kami bayar pajak, sedangkan pemda tak pernah sosialisasi,” kata KMD.

Kasi Konservasi Sumber Daya Alam Ekosistem (KSDAE) Dinas terkait Provinsi Lampung, Meswantori, saat dikonfirmasi enggan berkomentar.

“Silahkan konfirmasi ke pimpinan pak saya sudah laporkan ke pimpinan tksh 🙏,” ucapnya singkat via pesan WhatsApp, Selasa (10/10/23).

Menurut Meswantori, jika ingin komfirmasi terkait penebangan itu bukan dengan dia, melainkan langsung saja kepada Kanit Polhut KPH Gunung Balak.

“Bukan pak, kalau mau konfirmasi terkait kasus ini langsung ke Kanit Polhut KPH Gubal Pak Heriyanto.  Beliau yang cek TKP, nanti saya kirim nomor kontaknya,” tulis ia dalam pesan WhatsApp.

Ketika diminta tanggapannya mengenai kondisi hutan saat ini yang sudah gundul dan rusak, ia cuma membalas dengan stiker emot saja,
“🙏🙏🙏”

Diberitakan sebelumnya, bahwa Kawasan Hutan Lindung Register 38 gundul bagaikan lapangan terbuka dan saat ini sudah beralih berfungsi menjadi, pemukiman, lahan perkebunan dan pertanian, perusahaan peternakan, perusahaan lapak sawit, singkong dan jagung.

Suatu hal yang mustahil jika pihak Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Gunung Balak dan Dinas Kehutanan Provinsi Lampung tak mengetahui fakta tentang marak dugaan penebangan liar dan kondisi Register 38 ini. Namun anehnya, mengapa hal ini seolah dibiarkan saja dan terkesan tutup mata?. (*)