Badan Serikat PT. NHM Menolak Antam

matahari
Badan Serikat PT. NHM menolak keberadaan Antam di Bumi Gosowong, Halmahera Utara dan Maluku Utara. (Foto: Ist)
Badan Serikat PT. NHM menolak keberadaan Antam di Bumi Gosowong, Halmahera Utara dan Maluku Utara. (Foto: Ist)
Example 120x600

HALUT, MATAHARIPOS.COM- PT. Nusa Halmahera Minerals (NHM) membantah berita pada media soal ribuan karyawannya di Halmahera Utara resah karena belum menerima gaji dan tunjangan.

PT. NHM menegaskan, berita itu tak benar. Pasalnya, PT. Indotan Halmahera Bangkit (IHB) selaku pemilik NHM telah menyelesaikan seluruh hak berupa gaji karyawannya.

Ketua PB GSBM PT. NHM, Rudi Pareta, mengatakan, sejak kepemilikan Haji Romo Nitiyudo Wachjo (Haji Robert) di NHM melalui IHB, ia menerapkan, bahwa dalam segala hal selalu berkomunikasi terbuka dengan Badan Serikat dan merepresentasi para karyawan NHM secara langsung.

“Termasuk mengenai informasi karyawan akan dirumahkan, bahwa hal ini juga tidak benar. Karena sampai saat ini operasional NHM masih tetap berjalan,” jelas ia, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (1/9/2023).

Ia menjelaskan, sebagai karyawan yang bekerja sekitar 15 tahun di NHM, tak boleh membedakan baik buruk antara kepemimpinan zaman Haji Robert dengan zaman Newcrest.

“Soal sosok Haji Robert, beliau ini pemimpin dan orang tua kami sangat peduli terhadap hak-hak dan kesejahteraan karyawan serta keluarganya,” tutur ia.

Menurutnya, seluruh karyawan NHM melalui Badan Serikat NHM kecewa dengan sikap PT Antam. Pasalnya, pemilik 25 saham NHM ini terkesan tak peduli soal operasional NHM.

Ketua FPE KSBSI PT NHM, Iswan Hi Ma’rus, menuturkan, sejak awal NHM dimiliki Newcrest, Antam hingga awal tahun 2020 NHM berubah kepemilikan oleh IHB dan Antam. Antam tak pernah berkontribusi secara nyata kepada operasional NHM.

“Antam tak pernah bertemu dan memperhatikan secara langsung maupun tak langsung karyawan NHM, Antam hanya label saja walau Antam menempatkan direktur dan komisaris utama di NHM,” sebut ia.

Iswan mengapresiasi IHB lantaran bekerja keras mempertahankan operasional NHM tetap berjalan baik dan memperpanjang umur tambang NHM lebih dari 10 tahun. “Tapi selama ini Antam ada di mana?” tanya Iswan.

Ia menyebut, Antam tak pernah serius dan bersungguh-sungguh terlibat menjadi partners IHB di dalam NHM.

“Kami atas nama karyawan NHM dan masyarakat lingkar tambang menolak ada Antam di dalam NHM. Karena tak ada peduli kepada NHM dan masyarakat lingkar tambang.

Contoh, sebut ia, soal operasional, Antam tak terlibat. Apalagi hal-hal membeli alat, biaya eksplorasi, pembangunan mill yang baru dan dry stacking tailing (DST) yang dibiayai sendiri IHB.

“Kami bertanya selama ini Antam di mana? dan mengapa sampai Antam tak kelihatan sama sekali. Harusnya,  Antam itu ada dan bersama-sama IHB menjalankan kewajibannya sebagai perusahaan tambang tunduk dan patuh terhadap perintah undang-undang atas hak-hak masyarakat lingkar tambang dan karyawan,” ungkapnya.

Ketua PUK SPSI PT. NHM, Rusli A Gailea, menyoal keberadaan Antam sudah diperbuat oleh Antam di wilayah Maluku Utara. Antam sudah menerima USD 320 juta atau setara Rp 4,8 triliun.

“Apakah Antam pernah melaksanakan kewajiban memberikan hak-hak masyarakat lingkar tambang dan masyarakat Maluku Utara? Sampai saat ini kami hanya melihat, bahwa IHB sendirian berjuang memenuhi perintah undang-undang atas hak-hak dan kesejahteraan masyarakat lingkar tambang,” ucap Rusli.

Karena itu, Badan Serikat PT. NHM menyatakan menolak keberadaan Antam di Bumi Gosowong, Halmahera Utara dan Maluku Utara. (*)