DAERAH  

Wilson Musa Pinta Yayasan Perhatikan Kondisi Gedung SD GMIH Igo Loloda Utara

HALUT, MATAHARIPOS.COM- Warga Loloda, Wilson Musa, meminta agar pihak Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) Gereja Masehi Injili Di Halmahera (GMIH) dapat memperhatikan kondisi bangunan gedung SD GMIH Igo Kecamatan Loloda Utara, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara.

Aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) ini menjelaskan,  pendidikan adalah kunci maju dan mundur sebuah bangsa. Bangsa berkembang dan maju mensyaratkan salah satunya kebutuhan aspek pendidikan akan kondisi infrastruktur, seperti sekolah yang baik dan nyaman.

“Namun, harapan ini masih sebatas harapan. Tatkala masih banyak kita jumpai kondisi infrastruktur pendidikan tak layak huni para siswa dan guru. Seperti terjadi di SD GMIH Desa Igo, Kecamatan Loloda Utara,” jelas Wilson kepada awak media, Kamis (27/7/2023).

Menurutnya, yayasan harus mempunyai peran penting untuk membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan melalui pendidikan.

“Yayasan sebagai pemilik SD GMIH Igo harus juga berfikir keras dengan adanya fasilitas sekolah dasar yang sudah kian rusak,” ucap ia.

Wilson membeberkan, SD GMIH Igo di bawah payung YPK terdiri dari 4 ruang belajar dan satu ruang perpustakaan. Sejak direnovasi oleh desa pada tahun 2015, mulai rusak bagian atap pada 4 tahun terakhir. Sempat diupayakan  perbaikan satu ruang bagian atap agar proses belajar mengajar bisa tetap berlangsung.

“Itu dilakukan masa almarhum Pak Kepsek Roberto Motoh, sementara kondisi rusak bagian atap sudah kian parah, dan selama tiga tahun terakhir kami mengupayakan memohon  bantuan renovasi ke pihak terkait baik DPRD dan pemerintah pada tahun 2022,” katanya

Ia mengungkapkan, sudah ada wacana, bahwa SD GMIH Igo akan ada progres bantuan membangun baru 4 lokal. Kepala desa bersama BPD memutuskan dalam rapat  menghibahkan lahan sebagai persyaratan membangun gedung baru. Namun, program ini tak jalan.

Kondisi saat ini, lanjut ia, proses belajar mengajar mengandalkan satu ruang belajar yang pernah diperbaiki kepsek sebelumnya. Satu ruang perpustakaan kondisi ini tentu sangat tak memungkinkan. Jika musim hujan tiba, proses sekolah tak efektif karena sudah mulai bocor kembali pada  bagian atap dua ruang tersebut.

Kondisi kerusakan mulai dari atap, plafon dan sarana fasilitas sekolah lainnya. Pihaknya juga ikut menyayangkan kondisi sekolah di bawah naungan Yayasan tersebut yang tak diperhatikan.

“Sangat disayangkan, banyak pihak terkait berdalih. Ini terkesan saling lempar tanggung jawab. Padahal, dalam konstitusi yang dibuatnya sendiri (UUD 1945, BAB XIII, Pasal 31 ayat (1), pemerintah mengatakan, bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran,” ungkap ia. (*)